1.Keseimbangan Pasokan-Permintaan Bijih Tembaga Global Dampak Minimal, Pasokan dan Permintaan Sama-Sama Turun
Menurut laporan Freeport-McMoRan, sejak kecelakaan slurry di tambang tembaga Grasberg Indonesia pada 8 September, dua orang meninggal dan lima hilang. Insiden ini langsung menghentikan operasi tambang tembaga terbesar kedua dunia. Freeport-McMoRan memperkirakan produksi 2026 bisa 35% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Berdasarkan penilaian SMM, produksi tembaga Grasberg diperkirakan 488,000 ton metrik pada 2025(sebelumnya 750,000 ton) dan 500,000 ton pada 2026(sebelumnya 730,000 ton). Insiden ini tidak hanya mempengaruhi pasokan bijih tembaga tetapi juga permintaan peleburan tembaga, seperti fasilitas Gresik dan Manyar di Indonesia, mengakibatkan penurunan pasokan dan permintaan. SMM memprediksi neraca pasokan-permintaan 2025 akan -268,000 ton dan -308,000 ton untuk 2026.
2.Pembangunan Berkualitas Tinggi Industri Tembaga untuk Menembus "Persaingan Tidak Sehat" Menjadi Tren Tak Terhindarkan
Pada 24 September, Pertemuan Kelima Dewan Ketiga Cabang Tembaga Asosiasi Industri Logam Non-Ferrous China diadakan di Kawasan Baru Xiong'an, Hebei. Isu biaya pengolahan dan pemurnian(TC/RC) bijih tembaga yang terus rendah karena "persaingan tidak sehat" di industri peleburan tembaga adalah kekhawatiran paling sering diangkat perwakilan dalam rapat dan saat ini menjadi masalah paling mendesak di industri. Chen Xuesen, anggota Komite Tetap Partai dan Wakil Presiden Asosiasi Industri Logam Non-Ferrous China, menekankan dalam pidato penutupnya bahwa "persaingan tidak sehat" di industri peleburan tembaga telah sangat berdampak pada sektor tersebut, merugikan kepentingan nasional dan industri serta menyimpang dari arah pembangunan berkualitas tinggi. Ia mendesak perusahaan industri tembaga untuk menentang praktik tersebut.
Sebelumnya, rumor pasar tentang potensi batas kapasitas peleburan tembaga 160 juta ton metrik tidak disebutkan atau dikonfirmasi dalam rapat, dan keabsahan klaim tersebut masih perlu diteliti. Menurut statistik SMM, kapasitas peleburan tembaga China diperkirakan mencapai sekitar 12 juta ton metrik pada tahun 2025, dengan potensi kenaikan 1,7 juta ton menjadi 13,7 juta ton metrik pada tahun 2027. Kapasitas pemurnian tembaga China diproyeksikan sekitar 16 juta ton metrik pada tahun 2025, berpotensi meningkat 2,53 juta ton menjadi 18,53 juta ton metrik pada tahun 2027. Apakah kebijakan restriktif yang dapat dilaksanakan akan diperkenalkan, apakah kebijakan tersebut akan menargetkan kapasitas peleburan atau pemurnian, serta waktu implementasi kebijakan dan pembatasan proyek masih perlu ditunggu. Namun, tidak dapat disangkal bahwa pengembangan berkualitas tinggi dalam industri tembaga menjadi tren yang tak terhindarkan.
3. Diskusi Awal untuk Negosiasi Kontrak Jangka Panjang Konsentrat Tembaga Dimulai, dengan Pabrik Peleburan Menghadapi Tekanan Menjelang Akhir Tahun
Di pasar spot, insiden Grasberg tidak diperkirakan mempengaruhi pasar spot konsentrat tembaga China. Hal ini karena, hingga pertengahan September 2025, pemerintah Indonesia tidak lagi mengizinkan ekspor konsentrat tembaga domestik. Dengan demikian, insiden Grasberg hanya akan mempengaruhi pasokan dan permintaan konsentrat tembaga domestik Indonesia, tanpa dampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan-permintaan konsentrat tembaga global.
Mengenai rencana tahun depan, beberapa pabrik peleburan dan pemasok konsentrat tembaga bertemu selama konferensi industri minggu ini, terutama untuk mendiskusikan rencana produksi pabrik peleburan tahun depan dan niatan untuk tingkat TC jangka panjang. Meskipun negosiasi kontrak jangka panjang akhir tahun secara formal belum dimulai, diskusi dan persiapan awal sedang dilakukan. SMM mengetahui bahwa beberapa penjual dalam pertemuan tersebut menyatakan preferensi untuk menandatangani kontrak jangka panjang yang mengacu pada TC spot. Pendekatan ini berarti kontrak jangka panjang hanya berbeda dari kontrak spot dalam hal "volume" tetapi tidak signifikan dalam "harga". Selain itu, beberapa pedagang menunjukkan bahwa, mulai tahun depan, kontrak jangka panjang antara pedagang dan pabrik peleburan mungkin tidak lagi mengacu pada patokan, dengan kemungkinan semakin meningkatnya adopsi indeks pihak ketiga atau negosiasi bilateral.
SMM memperkirakan pasar spot konsentrat tembaga akan stabil sebelum negosiasi kontrak jangka panjang dimulai pada November, dengan TC spot tetap dalam kisaran -$40 hingga -$45 per ton metrik. Namun, setelah negosiasi, smelter kemungkinan akan meningkatkan permintaan terhadap konsentrat tembaga spot untuk persiapan penyimpanan musim dingin dan liburan Tahun Baru Imlek, yang dapat memberikan tekanan pada TC spot menjelang akhir tahun ini. Selain itu, sebagian besar peserta pasar dalam pertemuan percaya bahwa negosiasi kontrak jangka panjang yang akan datang juga akan menghadapi tantangan.



